Motivasi?

I’m seeking the (internal) motivation I lack…
Ha3x… suka bingung sendiri deh. Sebenernya yang jadi masalah tuh apa sih? Dulu aku mikirnya aku ga berani menghadap dosen karena aku ga pede dengan kemampuan otakku sendiri. Ga pede dengan kemampuanku mengartikulasikan pendapat (hallah… bahasanya…). Ga pede dengan apa yang aku pikirkan. Intinya ga pede lah!

Aku coba atasin dengan banyak baca buku self-help. Belajar mencintai diri sendiri. Belajar percaya dengan kemampuan diri. Belajar ini, belajar itu, blah… blah… blah… Lumayan ngaruh sih, tapi cuma waktu baca bukunya aja, he3x… sesaat setelah bukunya ditutup, disimpan kembali dengan rapih di rak buku… back to the old lazy me!

Sering kesindir dengan tulisan mengenai positive thinking. Emang bener, sekedar positive thinking aja ga cukup, selama ini aku udah ‘berusaha’ positive thinking, meyakinkan diri sendiri bahwa aku bisa ngerjain skripsi ini sampe selesai. Tapi… terlalu banyak kebingungan harus mulai dari mana akhirnya keburu males lagi mengambil langkah.

Sampe sempet kepikiran untuk cari bantuan profesional aja. Minta dihipnosis sekalian, dihipnosis supaya aku ga males lagi, supaya aku lebih menghargai diri sendiri, supaya aku lebih pede dengan kemampuan diri, intinya sih setidaknya supaya aku bisa menyelesaikan skripsi dulu dan LULUS!!! Hiks…

Senengnya kalo di dunia nyata bisa seperti di dunia Matrix, kalo ingin mempelajari sesuatu, tinggal upload program dari bidang yang bersangkutan, dalam waktu singkat… Voila! you can do just everything! (terinspirasi film Matrix waktu Trinity upload program untuk bisa menerbangkan helikopter, asik banget tuh!).

Dan ternyata… otak manusia emang bisa diprogram. Tapi waktunya ga sesingkat yang ditunjukin di film Matrix. He3x… aku baca dari salah satu artikel motivasi nih. Katanya nih, kalo mau merubah paradigma berpikir, ga bisa cuma pikiran sadarnya aja, pikiran bawah sadar sangat berpengaruh terhadap berhasil enggaknya upaya merubah paradigma berpikir. Analoginya, pikiran bawah sadar itu bisa dibilang sebagai sistem operasinya kali ya. Pikiran-pikiran yang di-upload ke dalamnya adalah input-input yang harus diproses. Sedangkan pikiran sadarnya mungkin bisa dibilang software-software yang diinstall untuk membantu mengolah input. Masalahnya sekarang, ga peduli sebagus apapun software yang diinstall, kalo ga compatible dengan sistem operasinya, ga bakalan bisa dipakai untuk mengolah input-input sebagus apapun. Hmmm… kalo masalahnya terjadi di komputer sih, ganti sistem operasinya gampang kan, tinggal uninstall SO lama, trus install SO baru. Beres deh! Tapi kalo kasusnya otak manusia, ga segampang itu, hiks… Aku masih bermasalah dengan sistem operasi otakku yang udah terkontaminasi virus ‘harsh-self-criticize’, ‘acute-inconfidence’, ‘sloth’…. hallah… mulai lagi deh…

Hiks… bingung… bingung… ku memikirnya…