Gajah Favorit ^^

12/13/2009 4:23:36 PM

GADING-GADING GANESHA (3G)

perfect combination
perfect combination

Sedikit lelah membaca novel ini. Mungkin karena sebelumnya baru saja selesai membaca novel, atau karena cerita novel ini kurang mengalir, kaku. Atau dua2nya? Hehe… sepertinya yang terakhir paling tepat.

NVO punya alur cerita yang mengalir lincah. Walaupun sebagian alur ceritanya ada yang flashback, tapi tetap bisa diikuti, aku ga ketinggalan kereta eh… ceritanya. Dialognya terasa natural, ada pesan moral, tapi tidak berkesan menggurui.

Kalau 3G, hmm… salah juga kali ya kubandingin. Mungkin perbandingannya tidak apple to apple (emang bukan, ini kan novel to novel :p). Anyway, seperti yang kubilang tadi, agak lelah mengikuti jalan ceritanya, walaupun tetap bisa kuselesaikan dalam waktu seharian ini (ketauan banget siy ga kemana2… huff…).

Di awal cerita, aku merasakan kesan ’sedikit’ menggurui. Memang banyak pesan moral di dalamnya, tapi terlalu kentara, jadi terasa dipaksakan. Sebagian (besar) pesan-pesan moral memang disisipkan dalam dialog-dialog antar tokohnya, tapi justru itu, dialognya jadi terasa kurang natural, skenariotif bangedh (duh… skenariotif… emang ada ya istilah skenariotif? Hehe…). Maksudku… dialognya terasa diatur banget, serasa tokoh-tokoh dalam novel ini berdialog menggunakan naskah yang sudah disusun terlebih dahulu.

Itu dari sisi dialog. Hal lain yang membuatku kurang sreg adalah, arogansi almamaternya yang sangat terasa (oops… bukan sentimen karena aku ga lulus UMPTN kesini lho ya… :p). Banyak bagian yang (menurutku) terkesan berlebihan dalam menyebutkan almamater, jadi makin terkesan skenariotip (maksa banget siy aku pake istilah ini :D). Well… kalau mengetahui asbabun nuzul diterbitkannya novel ini siy memang ga ada salahnya, mengingat tujuan awal diterbitkannya novel ini adalah untuk memperingati ulang tahun almamater terkait. Cuma… ya itu tadi, jadi terkesan kurang natural. Cape ngikutinnya… (eits… ini juga bukan karena aku berasal dari PTN tetangga ya).

Hmmm… apa lagi ya? Hihi… udah ah, jangan bahas sisi jeleknya aja. Secara konten tetep bagus ko. Aku jadi kebayang masa kuliah kakak sulungku yang angkatan 80-an. Jaman-jaman orde baru dimana kakakku juga dulu katanya sih, pernah ikut demo dan sempat jadi incaran intel (ini aku tahu dari Mama, orang ybs sih mana pernah cerita, paling ngajak adik bungsunya ini ke Dunkin Donuts Jl. Merdeka, ikut ngumpul sama temen-temen aktivisnya kali ya, masih inget tu sama salah seorang temennya yang penampilannya paling nyentrik, rambut gondrong, kacamata gede, kemeja yang kancingnya ga pernah difungsikan, well… kakakku juga kayanya dulu penampilannya ga jauh beda :p).

Eh… sampe mana tadi? Tuh kan… belok dulu sih ceritanya. Oiya, cerita masa kuliah angkatan 80-an. Itu juga klo aku ga salah tebak setting waktunya ya. Soalnya ada satu scene yang bikin aku mempertanyakan setting waktunya. Ketika tokoh-tokohnya bercanda tentang intel yang diplesetkan jadi intel inside. Emang taon 80-an di Indonesia udah ada komputer intel pentium? Seingatku tahun 80-an itu processornya masih 486. Bener ga? Hwadah… lama ga apdet info dunia perkomputeran, sekarang juga aku pasti dah gaptek…

Haha… ngritik lagi… :p

Anyway, ceritanya juga lumayan nambah pengetahuanku tentang dunia perpolitikan dan idealisme mahasiswa angkatan 80-an. Hihi… sedikit membosankan mengingat aku ga terlalu tertarik dengan bidang politik. Tapi baca novel ini, jadi dipaksa tahu :p

Satu hal yang mirip dengan NVO, adalah tokoh-tokohnya yang terdiri dari seorang wanita yang dikelilingi teman-teman pria (halah…). Dan hampir serupa juga, tokoh wanitanya sempat jadi rebutan. Hmmm… kayanya emang banyak kasus kaya gini ya? Should I feel lucky not to be one of these women? *menjulurkan lidah lagi*

Hihi… bukannya iri, tetap bersyukur ko, sangat bersyukur malah ga mengalami hal-hal yang harus dijalani para karakter wanita yang populer dalam novel. I still love to be myself! *smug*

The most interesting part form the story is, reality bites… when you graduate from college, go to work, and found out that the real world is not as kind as it seems, dihadapkan pada pilihan berat yang kadang harus mengorbankan idealisme, yang memang banyak contohnya di dunia nyata — di novel ini juga memang mengambil contoh dari dunia nyata. Makanya sebagian isinya akan terasa seperti membaca sejarah yang pahit. Bitter truth…

Oranye-nya Segerrr!

Baru mengkhatamkan “Negeri van Oranje” tadi pagi. Dan sudah sejak pagi ingin menulis semacam resensi tentang buku ini. Atau… mungkin lebih tepat what I think about this book.

Last time I wrote what I think about a book, is when I got inspired by “5 cm” (walaupun dalam kenyataannya baru benar-benar ‘bergerak’ sekitar setahun setelah baca buku itu, hehe… waktu itu memang terjangkit malas dalam stadium yang sudah cukup paraaahhh…).

Rasanya rugi membaca banyak buku kalau cuma numpang lewat. Maksudnya… cuma aku baca sekali, setelah itu sudah…. Kalau kutulis begini, setidaknya bisa mengingatkanku kembali, apa yang berkesan dari buku yang sudah kubaca. Termasuk beberapa buku yang ’hanya’ berkesan sebagai bacaan ringan yang benar-benar ringan. Hehe… teringat satu novel plesetan yang memang kocak dengan cerita yang sama sekali ga masuk di akal. Kulalap habis hanya dalam waktu kurang dari sejam (waktu ’ditinggalkan’ menunggu sendirian di kafe). Baca buku macam itu bikin ga peduli cekikikan sendirian di tempat umum, haha… hiburan oy! Tapi sempat kecewa ketika sampai akhir cerita, seperti antiklimaks… akhirnya malah ga seru, dipaksakan ending. Tapii… like I said before, it’s just a light reading.

Ok! Back to the previous title I mentioned in the opening of this writing. Hiks… sedikit mangkel melihat cover novel ini terlipat gara-gara kubaca menjelang tidur, waktu aku bangun, novel ini sudah pasrah menahan beban tubuhku dalam kondisi terlipat… ga mulus lagi deh covernya…

Ok.. ok… sekarang beneran… aku bahas isinya.

Hummm… let’s see… where should I begin?

Because I envy (and also admire) Lintang, I will tell you about her first.

Lintang dideskripsikan sebagai seorang gadis yang ceria, murah senyum, supel, dan cerdas, eit… jangan lupa tambahkan menarik alias atraktif (whoaa… really close to perfect here). Makanya tokoh-tokoh utama pria dalam novel ini berebut menarik hatinya Lintang. Dia tipe gadis yang jadi idaman para pria, physically attractive and emotionally comforting (haha… apa ya kata yang tepat untuk mendeskripsikan kalau dia itu menimbulkan perasaan nyaman dan dirindukan kehadirannya). Hehe… I envy her, really…

Wicak, seorang pecinta lingkungan yang membuktikan kecintaannya dengan bergabung dalam NGO yang berusaha menghentikan pembalakan hutan. I don’t really remember the whole character of him. NO… wait… I do remember that he had difficulties of saying his feeling directly. Pernah menyatakan perasaannya lewat surat yang ditulis di halaman akhir buku sang pujaan waktu SMP, berakhir dengan kegagalan gara-gara lupa menulis nama orang yang dituju dan namanya sendiri sebagai pengirim. Kesalahan yang sempat terulang waktu ia berusaha menyatakan perasaannya pada Lintang. Hihi… kocak deh…

Banjar, eksekutif muda yang memutuskan melanjutkan kuliah di luar negeri dalam upaya pembuktian kalau dia mampu hidup pas-pasan sebagai mahasiswa di negara asing. Well… I’d say he did it well.

Daus, anak (atau cucu?) ustadz yang berulang kali gagal bikin dosa gara-gara (katanya sih) doa engkongnya yang luar biasa ampuh. Hihi… Alhamdulillah dunks… masih disayang Tuhan tu, walo berkali-kali dah niat bikin dosa… xixixi…. (remind me of myself?).

Dan tokoh pria pamungkas adalah Geri, yang digambarkan sebagai sosok pria idaman wanita (sounds like a song’s title…). Fisik oke, mapan, baik hati, perhatian…. so close to perfect. Setuju lah ama predikat yang dikasih tokoh-tokoh pria yang lain klo dia emang idaman. You’ll get a surprise near to the end (haha… sorry… I hope it won’t be a spoiler).

Baca novel ini asik. Ga cuma ceritanya yang seru buat diikutin, tapi ada tips-tipsnya juga, mulai dari tips buat yang mo kuliah di Belanda, sampai tips seru backpacking travelling. Deskripsi tempat-tempat wisata dan lokasi-lokasi lainnya dalam novel ini bikin mupeng… kayanya seru klo bisa mengunjungi langsung lokasi-lokasi tersebut. Makin ngiler lagi waktu ada scene restoran dengan chocolate fondue… *drooling*.

Tunggu… tunggu… daritadi aku belum bahas ceritanya ya??? Hehe… trust me, lebih seru baca sendiri. Dari deskripsi karakternya, kira-kira udah kebayang kah ceritanya kaya gimana? Yang pasti tentang persahabatan, kesehariannya mahasiswa di Belanda sana, daannnn… ga ketinggalan… about love….

Further info about this novel, click http://www.negerivanoranje.nl/

teuteup... narsisss
teuteup... narsisss

Ok, then… novel berikutnya sudah menanti… ehm… ada rekomendasi?

Re-organize my blog

Huwaaa…. ‘cuma’ 39 tulisan sepanjang tahun 2005 sampai dengan sekarang???

Hehehe… 39 tulisan itu kan yang di blog Friendster aja, belum termasuk tulisan di blog lain (yang ternyata juga sedikit T_T).

Gimana siy? Katanya pengen jadi penulis, tapi masih jarang nulis… :p

Well, still in process lah… :p

Haha… kebanyakan ngeles, gawat juga.

Okeh, tadinya 39 tulisan yang ada di blog Friendster ini mau aku organisir. Dikelompokkan dalam kategori-kategori yang mempermudah pembaca blog ini *emang ada yang baca?* *ada lah, makanya mau kupermudah :p*

Tapiii… belum sampe setengah jalan, kayanya baru kupindahkan sekitar 10 tulisan ke dalam kategori baru, huwaaaahhhh… ternyata butuh perjuangan mengatur blog ini. Masa harus satu-satu ku-save ulang ke dalam kategori-kategori baru. Ada cara cepat ga sih? Tadinya kupikir bisa dengan menandai judul tulisannya, terus klik move to category mana gitu. Tapi ternyata tak bisa… huff… sabaarr… satu-satu okeh. Tapi aku break dulu, makanya ini diseling dengan membuat postingan baru dulu… Tarik napas… satu… dua… tiga…

Nah lho! Niat awal login kan mo share tentang hari ini. Gara-gara melihat blog yang belum teratur, malah jadi belok dulu.

Fuuuhhh… enough with the break. Sekarang otakku yang mandeg. Terusin lagi dengan pengelompokan tulisannya.

Lanjuuttttt…