Tidak Masuk Akal

‘Mengapa beberapa hal dalam hidup tidak berjalan sesuai dengan yang kita inginkan?’ tanya seorang pemuda.

‘Bagaimana kamu tahu kalau itu benar-benar yang kamu inginkan?’ tanya si gadis.

Si pemuda terdiam. Dia tidak pernah benar-benar memikirkan hal itu sebelumnya. Jika dia mendapatkan apa yang dia inginkan, dia bahagia. Jika dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, dia bersedih.

Si pemuda memandang hamparan danau biru di hadapannya. Angin sore yang berhembus lembut membuat riak kecil di atas permukaannya. Dia berputar menghadap si gadis – saudara perempuannya. Saudara perempuannya tampak sedang berpikir serius. Saudara perempuannya tampak damai, dan dia bisa melihat bayangan kolam di mata saudara perempuannya. Tak tampak sedikitpun riak, matanya tampak jernih.

‘Bagaimana caraku mengetahuinya?’ tanyanya pada saudara perempuannya.

‘Bagaimana caraku mengetahuinya?’ saudara perempuannya mengulangi pertanyaan itu. Tapi kali ini pertanyaan yang berbeda. Dia ingin saudara laki-lakinya memperoleh sendiri jawabannya. Saudara laki-lakinya mengerutkan kening di hadapannya, dan dia hanya tersenyum, sehingga saudara laki-lakinya akhirnya memutuskan untuk mencari jawabannya sendiri.

Beberapa saat berlalu, dan pemuda itu sibuk dengan pikirannya sendiri. Malam itu malam yang hangat. Seekor capung terbang melintas, sayapnya berkilauan ditimpa sinar matahari yang tenggelam. Di seberang danau, sekelompok burung Myna riuh berterbangan kembali pulang ke sarangnya yang nyaman, yang kini dihangatkan oleh cahaya matahari terakhir sebelum tenggelam hari ini.

Tiba-tiba terlintas sesuatu di pikiran si pemuda, dia membenamkan wajahnya di kedua tangannya. Apapun yang terlintas di pikirannya, sepertinya itu cukup membebaninya.

‘Jika apa yang aku inginkan sebenarnya adalah bukan apa yang benar-benar aku inginkan lalu bagaimana aku tahu bahwa apapun itu yang aku inginkan adalah yang benar-benar aku inginkan?’ dia mengungkapkan isi pikirannya.

‘Nah, justru disitulah letak keindahannya,’ jawab saudara perempuannya.

Dia menggelengkan kepalanya, menghela napas dan melanjutkan, ‘Ini membingungkan, menjengkelkan, menyebalkan, dan sel-sel otakku sudah berada di ujung tanduk menimbulkan kerusuhan dalam otak, dan kamu bilang itu indah?!’

‘Dan ini juga membuatku sakit kepala,’ dia menambahkan lagi.

‘Baiklah, coba aku tanyakan sesuatu padamu adikku. Kamu mungkin akan menganggap ini sedikit aneh.’

‘Lanjutkan…’

‘Apa yang kamu anggap indah?’

Dia menatap saudara perempuannya seolah tidak percaya dengan pertanyaan yang baru ia dengar dan memutuskan untuk tidak menjawab. Entah karena dia butuh waktu untuk memikirkan jawabannya atau karena dia menganggap itu sebagai suatu pertanyaan paling tidak masuk akal yang pernah ia dengar. Langit mulai gelap. Matahari sudah bersembunyi di balik pohon-pohon di seberang danau. Mereka mulai mendengar suara serangga dan siulan burung hantu dari kejauhan.

Saudara perempuannya tersenyum, ‘Baiklah, aku akan memilih sesuatu hal, dan kita berdua akan menyetujui bahwa hal itu indah, untuk bahan diskusi.’

‘Pada suatu hari yang cerah, kita berdua dalam perjalanan pulang melalui jalan setapak di hutan yang tidak jauh dari rumah kita. Kita masuk rumah dan duduk di ruang tengah tanpa melepas kacamata hitam. Di TV sedang diputar film Madagascar. Hari itu begitu cerah sehingga kita memilih kacamata hitam yang paling gelap. Kemudian Mort tampil. Kamu tahu Mort kan?’

‘Si makhluk kecil bermata besar?’ jawabnya, terhibur dengan pilihan karakter yang dimunculkan.

Image

‘Betul! Si makhluk kecil bermata besar,’ saudara perempuannya melanjutkan sambil tertawa. ‘Nah, kita masih menggunakan kacamata hitam kita sementara film yang diputar ditampilkan dalam format 3D. Mort muncul di TV tapi kita tidak mampu mengenalinya sebagai makhluk mungil yang lucu dan menggemaskan yang disukai semua orang. Semuanya tampak buram. Tidak jelas. Gelap.’ Saudara perempuannya menatapnya sejenak. ‘Kamu paham kan? Kita tidak dapat melihat betapa lucu dan menggemaskannya Mort karena ada masalah dalam cara kita melihatnya.’

Si saudara perempuan memutar tubuhnya hingga sempurna menghadap saudara laki-lakinya. Saudara laki-lakinya mendengarkan dengan penuh perhatian, menunggu dengan sabar saudara perempuannya melanjutkan penjelasannya.

Saudara perempuannya tersenyum dan melanjutkan, ‘Kenyataan, sebagian besar, tidak sesuai dengan pandangan kita. Kita melihatnya dari sudut pandang yang terbentuk dari pola pikir kita pada saat itu. Ada banyak bentuk interpretasi dan kadang-kadang kita perlu merubah sudut pandang kita dalam melihat dunia. Kita tidak akan pernah mampu mengambil hikmah dari setiap kejadian pada waktunya kecuali jika Dia memberkahi kita dengan kemampuan untuk membedakan antara kenyataan dan apa yang hanya merupakan imajinasi kita tentang kenyataan.’

Matahari tiba-tiba muncul dari balik pepohonan. Cahayanya hampir menghilang sempurna ditelan horizon tapi menimbulkan permainan cahaya yang sangat indah, dunia dibalut cahaya keemasan dari matahari musim panas.

Si pemuda mengerutkan keningnya, ‘Jadi… bagaimana kita mengetahui apa yang kita mau?’

‘Nah… sedikit sulit untuk mengetahuinya, dan butuh sedikit upaya dan kerja keras,’ jawab saudara perempuannya sambil menghela napas.

Segalanya tampak hening. Seolah-olah dunia ikut mendengarkan. Bahkan burung-burung Myna kecil yang riuh pun sudah berhenti saling melangkahi kepala satu sama lain. Induk burung Myna pun tampak lega.

Setelah mengambil jeda sejenak, saudara perempuannya melanjutkan, ‘Jadi begini, apa yang kita pahami, tergantung kondisi hati kita… Jadi, semakin aku berusaha memperbaiki diri, semakin sedikit kekacauan dalam hatiku, sehingga pandanganku terhadap dunia akan semakin jernih, dan aku dapat memahami segala sesuatunya dengan lebih baik.’

‘Kamu tahu, tidak seorang pun bisa benar-benar yakin kalau hatinya sedang dalam kondisi yang terbaik. Aku pernah mendengar bahwa kalau dirimu merasa hatimu sudah aman justru pada saat itulah sebenarnya hatimu dalam kondisi paling rentan dan kadang-kadang pada saat itulah paling jauh dari kondisi baik – karena pada saat itu dirimu sedang sombong.’

Si pemuda berpikir sebentar kemudian merespon, ‘Jadi…yang perlu aku lakukan adalah berusaha dan memastikan bahwa hatiku selalu dalam kondisi yang terbaik serta minta pertolongan Allah agar aku senantiasa bisa melihat segala sesuatu sebagaimana seharusnya. Dan Dia akan membantuku memahami apa sebenarnya yang aku butuhkan.’

Saudara perempuannya tersenyum lebar, ‘Tak ada seorang pun yang mencintaimu lebih dari Allah. Tak ada yang peduli padamu lebih dari Allah. Tak ada seorang pun yang tahu apa yang terbaik untukmu selain Allah. Bahkan kita sendiri pun sering tak tahu apa yang terbaik untuk kita. Tapi Allah Tahu – selalu Tahu. Dia Tahu apa yang terbaik untukmu, kapan waktu terbaik, dimana, dan bagaimana cara terbaik untuk memberikannya. Yang perlu kamu lakukan adalah menyerahkan segalanya pada Allah, Dia akan mengurus segala sesuatunya, dan pastinya, akan memberikan hanya yang terbaik untukmu.’

Dia memandang saudara perempuannya dan tersenyum – sesuatu yang sering dia lakukan ketika saudara perempuannya telah membantunya melihat segala sesuatunya dengan lebih jelas. Saudara perempuannya balas tersenyum dan kembali memandang danau.

Permukaan air tampak lebih jernih sekarang.

 

terjemahan dari artikel “It Doesn’t Make Any Sense”,
sumber : http://www.suhaibwebb.com/relationships/withthedivine/it-doesnt-make-any-sense/

Iklan

One thought on “Tidak Masuk Akal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s